facebook
twitter
youtube
vimeo
skype
Call Us : (+62) 21 574 66 55
default-logo

Cerita Dibalik Ragam Kebudayaan Bali

Seperti yang diketahui pada umumnya Bali sangat sarat akan kebudayaan yang masih melekat kental. Bahkan, ketika Bali mulai dibuka untuk orang asing pada tahun 1908 ditandai dengan jatuhnya kerajaan Klungkung dalam Perang Puputan Klukung dan Bali mulai dikuasai oleh Belanda, sejak saat itu hingga saat ini secara kebudayaan dan keagamaan, masyarakat Bali tetap mampu hidup beriringan dengan para wisatawan.

Dibalik kehidupan Bali yang sangat menakjubkan, masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi keseimbangan secara hakikat. Atas dasar tersebut masyarakat Bali mampu menerima wisatawan dengan open arms dengan tetap menjalani segala kepercayaan yang mereka miliki. Somehow, the spiritual activity makes Bali more interesting.

There are countless of ceremonies that Balinese have. Inilah cerita dari beberapa upacara dan fakta mengenai Bali.

 

Roda Kehidupan Masyarakat Bali

Masyarakat Bali percaya bahwa setiap lahirnya seorang anak mereka didampingi oleh 4 malaikat yang disebut dengan Catur Sanak. Setiap orang merayakan ulang tahun secara kalender astrologi Bali yang diulang setiap 6 bulan sekali (otonan), dan juga tanggal masehi. Jadi ada 3 kali perayaan ulang tahun setiap tahunnya.

           Upacara pemotongan gigi, atau biasa disebut Mepandes, Metatah, atau Mesanggih, merupakan ritual yang dilakukan kepada remaja Bali saat beranjak dewasa. Pada wanita upacara ini dilakukan setelah mendapatkan menstruasi, dan pada lelaki dilakukan saat suaranya mulai berubah. Technically, ritual ini mengikis gigi taring manusia, sebagai simbol membuang 6 musuh manusia  yang ada didalam diri atau biasa disebut dengan Sad Ripu, diantaranya adalah :

  1. Kama, sifat penuh nafsu
  2. Lobha, sifat serakah
  3. Krodha, sifat pemarah
  4. Mada, sifat mabuk atau mudah terpengaruh emosi yang membelenggu
  5. Moha, sifat angkuh
  6. Matsarya, sifat iri hati dan dengki

 

Upacara Mesangih

Upacara Mesangih

(Picture courtesy of : grandmirage.com)

         Upacara Ngaben, seperti yang diketahui pada umumnya dalam upacara ini adalah prosesi pembakaran jenazah. Upacara ini secara hakikat bertujuan untuk beberapa hal,

  1. Secara simbolis setelah dilakukan prosesi pembakaran dan menghanyutkan abu jenazah ke sungai atau laut, memiliki makna agar Sang Atma (roh) terlepas dari kemelekatan duniawi dan dapat kembali kepada Tuhan (mencapai Moksha).
  2. Dengan membakar jenazah juga bermakna sebagai mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembentuk badan kasar manusia) agar tidak menghalangi perjalanan Sang Atma. 5 unsur tersebut adalah                        – Pertiwi : Unsur padat yang membentuk tulang, daging, dll

– Apah : Unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll

– Bayu : Unsur udara yang membentuk nafas

– Teja : Unsur panas yang membentuk suhu tubuh

– Akasa : Unsur Ether yang membentuk rongga dalam tubuh.

 

Arsitektur Bali

          Asta Kosala Kosali, merupakan fengshui yang dipercaya oleh masyarakat Hindu Bali sebagai dasar membangun rumah. Dipercaya bahwa bangunan memiliki jiwa Bhuana Agung (alam makrokosmos) dan manusia yang menempatinya adalah bagian dari Bhuana Alit (alam mikrokosmos). Maka, agar mencapai keseimbangan antara kedua alam tersebut, manusia (mikrokosmos) harus harmonis dengan bangunan yang ditinggalinya.

Masyarakat Bali membangun bangunan suci atau tempat tinggal sesuai dengan yang dituliskan pada sastra Asta Bhumi atau Asta Kosala-Kosali. Asta Kosala Kosali merupakan cara penataan bangunan berdasarkan anatomi tubuh pemilik bangunan. Pengukurannya juga menggunakan ukuran dari tubuh si empunya. Satuan ukuran yang digunakan adalah ; Musti, Hasta, dan Depa. Jadi, besar rumah akan ideal sekali dengan si empunya rumah.

Pada zaman dahulu, tabu hukumnya bagi masyarakat Bali untuk memasang pagar didepan rumah. Rumah tanpa pagar diartikan sebagai keramahan dalam menyambut siapapun yang hendak masuk kedalam rumah.

 

Sistem Irigasi

         Subak, atas dasar keramahan dan menghindari sifat tamak, Bali juga membuat sistem irigasi Subak yang juga telah dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2012. Karena sistem irigasi subak tidak mengabaikan kepentingan petani lain.

Sistem subak mampu melakukan pengelolaan irigasi dengan dasar-dasar harmoni dan kebersamaan sesuai dengan prinsip konsep Tri Hita Karana. Tri berarti tiga, hita berarti penyebab, dan karana berarti kebahagiaan, 3 penyebab kebahagiaan yang juga diartikan sebagai keseimbangan hubungan manusia dengan alam sekitar dan juga Tuhannya.

Dengan dasar itu sistem subak mampu mengantisipasi kemungkinan kekurangan air (khususnya pada musim kemarau), dengan mengelola pelaksanaan pola tanam sesuai dengan peluang keberhasilannya. Selanjutnya, sistem subak sebagai teknologi sepadan, pada dasarnya memiliki peluang untuk ditransformasi, sejauh nilai-nilai kesepadanan teknologinya dipenuhi.

Bali_panorama(Picture courtesy of : wikipedia.com)

Tari Tradisional Bali

          Ada 3 jenis tarian tradisional Bali, yaitu tari Wali atau tarian sakral yang hanya ditampilkan saat upacara adat karena tarian tersebut merupakan rangkaian upacara, sebagai contoh Tarian Sanghyang Dedari. Tari Babali, juga ditampilkan saat upacara adat namun tujuannya lebih untuk kebutuhan entertaining para audiens yang turut merayakan upacara tersebut, contohnya tarian Gambuh. Tari Balih-Balihan, tarian yang bisa ditampilkan kapanpun dan dimanapun karena tujuannya benar-benar untuk menghibur, contohnya tarian Joged.

Tarian Sanghyang Dedari hanya bisa ditampilkan oleh gadis perawan, dan diyakini jika gadis yang menampilkan tarian ini dirasuki oleh ruh lain selama performance.

Sanghyang Dedari(Picture courtesy of : lowkeyreality.com)

About the Author
  1. Putu Pirnadi Reply

    Tidak diragukan lagi, Bali menyimpan kekayaan budaya dan alam yang luar biasa. Terima kasih atas artikelnya.

Leave a Reply

*